Drs. H. Ahmad Dzaki Salim, pria kelahiran Jakarta yang sekarang menjadi Kepala Sekolah SMA Terpadu Hayatan Thayyibah Sukabumi Jawa Barat bercerita kalau dulu, dirinya memulai karir sebagai seorang guru di sebuah Madrasah kecil di Jakarta Timur. Apa yang dicapainya sekarang tidak lepas dari perjuangan panjang dirinya dalam meningkatkan karir dan kehidupannya.
Ust. Dzaki, begitu ia disapa menuturkan, sejak menjadi guru di Madrasah, memang merupakan perjuangan berat yang harus dilewati pada awal-awal karir menjadi seorang guru. Bagaimana tidak, gaji bulanan yang didapatkan bisa dibilang hanya cukup untuk menghidupi kehidupan sederhananya bersama istri dan anak-anaknya.
Tetapi Ust. Dzaki yakin benar, bahwa ia mempunyai mimpi untuk memimpin sekolah yang lebih besar di tingkat nasional. Karena itupun, ia selalu membawa visi ke depan tentang bagaimana mengelola lembaga pendidikan secara lebih baik.
Kesempatan itu datang, ketika ada tawaran untuk menjadi guru di sekolah berbentuk Boarding School di wilayah Sukabumi, yang bernama SMU Terpadu Hayatan Thayyibah. Dengan tekad yang bulat, ditinggalkannya Madrasah di Jakarta dan mulailah petualangan berikutnya menjadi guru di sana.
Seiring dengan tekad yang begitu kuat, disertai perjuangan dan pengabdian sebagai guru selama beberapa waktu, pengurus Yayasan akhirnya mengangkat Ust. Dzaki menjadi Kepala Sekolah SMA. Tugas berat itu diembannya dengan penuh tekad menjadikan sekolah tersebut menjadi sekolah unggulan berskala nasional.
Dengan visi yang kuat, Ust. Dzaki dengan dukungan penuh dari seluruh pihak mengembangkan SMA Hayatan Thayyibah menjadi SMA rintisan Sekolah Berstandar Internasional (SBI). Tidak mudah menjadikan sebuah sekolah menjadi sekolah berstandar internasional. Tahapan ke arah sana begitu ketat, dengan standar manajemen dan kualitas Sumber Daya Manusia yang tinggi.
Namun demikian, visi ke depan itu mengarahkan Ust. Zaki untuk memimpin guru-guru dan seluruh stafnya bahu membahu dalam meningkatkan kapasitas dan kualitas yang dimilikinya melalui berbagai pendidikan dan pelatihan yang terus menerus diadakan.
Berbagai program pendidikan dan pelatihan inilah yang juga mengantarkan Ust. Dzaki untuk meraih salah satu mimpi-mimpinya, yaitu mengelilingi berbagai tempat di dunia. “Saya bersyukur, sambil bekerja bisa sekalian berkeliling ke berbagai tempat di dunia mulai dari Malaysia, Singapura, Jepang, Hongkong, Turki, dan berbagai tempat lain. Pada mulanya mimpi keliling ke berbagai tempat di dunia itu saya anggap sekedar khayalan, karena saya pikir sulit untuk bisa tercapai. Tetapi ternyata saya dapat pelajaran sangat berharga bahwa kita tidak boleh meremehkan mimpi-mimpi kita, karena suatu saat mungkin ada jalan bagi kita untuk mencapai mimpi-mimpi tersebut. Karena itu, jangan pernah berhenti bermimpi. Jagalah mimpi itu tetap hidup, bekerja dan berusahalah, niscaya Tuhan akan mendengar mimpi-mimpi kita”, begitu paparnya.
Kisah Ust. Dzaki adalah contoh nyata betapa hampir semua orang harus memulai karir dari bawah, bahkan dari sebuah Madrasah yang belum terkenal sekalipun. Namun demikian, bukan berarti orang tersebut boleh berputus asa tanpa ada harapan untuk menjadi lebih baik. Syarat utama adalah terus mengembangkan dan memperbaiki diri, sehingga secara pribadi layak untuk dinaikkan kelasnya kepada posisi yang lebih tinggi. Memelihara mimpi berarti memelihara harapan, sekaligus mengingatkan diri kita untuk terus bekerja keras mencapai mimpi-mimpi tersebut…

