Feeds:
Tulisan
Komentar

 

The Leader in Me

The Leader in Me

 

Stephen Covey, setelah menyihir dunia dengan 7 Kebiasaan Manusia yang sangat Efektif, tahun 2009 ini kembali menelurkan satu karya yang cukup spektakuler: The Leader in Me. Buku ini bercerita tentang kisah sukses sekolah mengembangkan bakat dan potensi anak didik melalui pembiasaan dan pembudayaan 7 kebiasaan efektif di sekolah.

Upaya meningkatkan efektivitas dan produktivitas hidup ini perlu pembiasaan sejak dini, sehingga bisa menjadi budaya yang akan dibawa anak-anak saat mereka dewasa. Hingga pada saatnya nanti, mereka sudah siap menjadi pemimpin di masa mendatang. Pertanyaannya kemudian, mungkinkah kepemimpinan bisa diajarkan dan dididik sejak kecil di sekolah?

Cerita sukses dimulai dari Kepala Sekolah Sekolah Dasar A.B. Combs di Carolina. Saat bertemu Covey di sebuah seminar, mereka mencanangkan untuk mengembangkan 7 kebiasaan di sekolah. Pekerjaan dimulai dengan melakukan penelitian terhadap stakeholder sekolah apa saja yang mereka inginkan dari lulusan sebuah sekolah. Dimulai dari orang tua, Pemerintah, hingga kalangan bisnis. Yang menarik, baik dari orang tua maupun kalangan bisnis menginginkan lulusan sekolah memiliki berbagai kemampuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan di masa mendatang, tidak hanya prestasi akademis.

Keterampilan hidup ini mulai dari bagaimana mereka bertanggung jawab, bergaul dan bekerjasama dengan orang lain, memecahkan masalah, mempunyai motivasi dan etos kerja yang kuat, mempunyai kesadaran untuk terus mengembangkan diri, dan belajar menjadi kreatif.

Program pengembangan kepemimpinan yang diterapkan bukanlah sebuah “kurikulum baru” dengan menambahkan satu pelajaran khusus yang bertema kepemimpinan dan kebiasaan efektif, tetapi program ini dijalankan pada semua mata pelajaran dan proses belajar mengajar di sekolah.

Untuk memahamkan kebiasaan “Menjadi Proaktif” misalnya, dalam pelajaran Bahasa, setiap anak diminta membaca novel, kemudian diminta untuk berimajinasi seandainya setiap tokoh bersifat pro aktif, apa yang akan terjadi kemudian. Masing-masing orang diajak untuk mulai merespons sesuatu secara positif. Semua orang diminta mencatat secara rapih target-target yang harus mereka capai dalam kurun beberapa waktu ke depan, sesuai dengan prinsip “Mulai dengan Tujuan Akhir”.

Target-target itu menyangkut juga bagaimana menjadi warga sekolah yang baik, dan apa yang bisa dikontribusikan kepada sekolah. Target-target ini secara berkala diperiksa mana yang sudah tercapai dan mana yang belum tercapai. Selanjutnya, setiap murid mulai diajarkan berpikir dan bertindak bagaimana menentukan prioritas hidup agar mereka bisa mencapai apa yang mereka cita-citakan. Mereka belajar mendahulukan yang utama (First Thing First), hal-hal yang penting dan relevan dalam kehidupan mereka.

Karena sekolah juga mempunyai visi dan target, masing-masing murid berusaha mengaitkan target pribadi mereka dengan target sekolah. Sistem di sekolah juga membantu mereka untuk menjadi orang-orang yang merasa dihargai dengan kemampuan mereka masing-masing. Semua orang bekerja sama, bergembira, tidak ada yang merasa dikalahkan, karena prinsip solusi menang-menang (win-win solution) yang mereka kembangkan.

Jika ada yang bertengkar atau berkelahi di kelas, para siswa diajarkan untuk tidak terlebih dahulu menyalahkan orang lain. Mereka diajarkan untuk ber-empati, mendengarkan terlebih dahulu apa yang terjadi sebelum menyalahkan, sehingga persoalannya menjadi lebih mudah untuk diselesaikan. Murid-murid juga diajarkan untuk bekerja sama, bersinergi, membangun kekuatan untuk bersama-sama mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Setiap orang bisa memberikan kontribusi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, itulah yang disebut sebagai prinsip “sinergi”. Dan terakhir, tentu saja setiap orang sangat senang untuk belajar dan meningkatkan keterampilan yang mereka miliki dengan prinsip “mengasah gergaji” (sharpening the saw).

Anak-anak akan senang berolah raga untuk menjaga kebugaran, saling berkenalan satu dengan yang lain, dan selalu berlatih agar keterampilan dan kemampuan yang mereka miliki tidak habis bahkan terus berkembang. Akan lebih mudah memahami buku ini apabila sudah membaca karya-karya Covey terdahulu seperti “7 Kebiasaan Yang Sangat Efektif”, atau “8 Kebiasaan yang Sangat Efektif”, dan juga karya anaknya Covey, Sean Covey, “7 Kebiasaan Efektif untuk Remaja”. Karena berdasarkan prinsip-prinsip itulah, pembiasaan ini dilakukan di sekolah.

Buku ini mengajarkan bahwa setiap pribadi mempunyai keunikan dan bakat tertentu, di mana tugas guru, sekolah, dan orang tua untuk mengenali bakatnya masing-masing. Jangan buru-buru memberikan label “anak nakal, anak tak tahu diuntung, anak bodoh, anak pemalas”, dan berbagai label negatif lain. Mungkin saja, bakat terpendam itu memang harus digali terlebih dahulu, karena emas sekalipun terpendam dalam lumpur yang sangat kotor. Jangan sampai kita menyesal karena telah mematikan bakat dan potensi anak-anak kita. Bukan karena kita sengaja, tapi karena ketidaktahuan kita..

Bukan hal mudah untuk bisa mengajak anak-anak belajar, apalagi pelajaran yang masuk kategori “rumit” semacam Matematika. Rumit dalam artian banyak orang sudah terlebih dahulu alergi untuk belajar Matematika dengan begitu banyak rumus yang mesti dipelajari. Tantangan untuk bisa menjadikan anak-anak belajar Matematika secara menyenangkan inilah yang justru menjadi cerita penemuan metode pengajaran Matematika dengan jari, yang disebut sebagai Jarimatika.

Berawal dari kota kecil Salatiga, di mana seorang ibu rumah tangga, ibu Septi Peni Wulandari berhasil menemukan metode menyelesaikan hitungan Matematika dengan jari yang disebut sebagai Jarimatika. Metode ini sederhana karena menggunakan jari kita sebagai alat. Namun, metode ini efektif karena mampu memecahkan berbagai soal matematika. Di samping itu, metode ini membuat pelajaran Matematika yang tadinya rumit menjadi menyenangkan.

Sebagai sebuah sistem, belajar Jarimatika mensyaratkan proses belajar mengajar Matematika yang menyenangkan. Dengan menggunakan dua tangan dan 10 jari, belajar Matematika tidak lagi menjadi beban, karena disampaikan seperti sebuah permainan.

Ibu Septi Peni Wulandari, Penemu Jarimatika

 

Dengan menciptakan Jarimatika, perkembangan yang terjadi kemudian mungkin juga di luar perkiraan. Ibu Peni diundang ke berbagai forum baik di tingkat nasional maupun internasional untuk mengajarkan metode ini. Bahkan, metode inipun telah menjadi salah satu metode yang dipakai oleh berbagai bimbingan belajar di Indonesia dalam mempelajari Matematika.

Semua Berawal dari Kreativitas

Kreativitas menciptakan metode ini timbul dari dalam diri Ibu Peni yang mempunyai pengalaman betapa sulitnya mengajak anak-anaknya belajar Matematika. Berkali-kali ia mencoba berbagai cara agar bisa mengembangkan metode yang kreatif sampai akhirnya ia menemukan metode Jarimatika ini secara matang.

Satu pelajaran moral penting dari Ibu Peni adalah, bahwa tantangan dan kesulitan yang kita hadapi jangan sampai menjadikan kita menyerah terhadap keadaan, justru kita harus lebih kreatif dalam menghadapinya agar bisa menghasilkan solusi atas permasalahan tersebut dengan sebaik-baiknya.

Teruslah Bermimpi

Drs. H. Ahmad Dzaki Salim, pria kelahiran Jakarta yang sekarang menjadi Kepala Sekolah SMA Terpadu Hayatan Thayyibah Sukabumi Jawa Barat bercerita kalau dulu, dirinya memulai karir sebagai seorang guru di sebuah Madrasah kecil di Jakarta Timur. Apa yang dicapainya sekarang tidak lepas dari perjuangan panjang dirinya dalam meningkatkan karir dan kehidupannya.

Ust. Dzaki, begitu ia disapa menuturkan, sejak menjadi guru di Madrasah, memang merupakan perjuangan berat yang harus dilewati pada awal-awal karir menjadi seorang guru. Bagaimana tidak, gaji bulanan yang didapatkan bisa dibilang hanya cukup untuk menghidupi kehidupan sederhananya bersama istri dan anak-anaknya.

Tetapi Ust. Dzaki yakin benar, bahwa ia mempunyai mimpi untuk memimpin sekolah yang lebih besar di tingkat nasional. Karena itupun, ia selalu membawa visi ke depan tentang bagaimana mengelola lembaga pendidikan secara lebih baik.

Kesempatan itu datang, ketika ada tawaran untuk menjadi guru di sekolah berbentuk Boarding School di wilayah Sukabumi, yang bernama SMU Terpadu Hayatan Thayyibah. Dengan tekad yang bulat, ditinggalkannya Madrasah di Jakarta dan mulailah petualangan berikutnya menjadi guru di sana.

Di Jepang

 

Seiring dengan tekad yang begitu kuat, disertai perjuangan dan pengabdian sebagai guru selama beberapa waktu, pengurus Yayasan akhirnya mengangkat Ust. Dzaki menjadi Kepala Sekolah SMA. Tugas berat itu diembannya dengan penuh tekad menjadikan sekolah tersebut menjadi sekolah unggulan berskala nasional.

Dengan visi yang kuat, Ust. Dzaki dengan dukungan penuh dari seluruh pihak mengembangkan SMA Hayatan Thayyibah menjadi SMA rintisan Sekolah Berstandar Internasional (SBI). Tidak mudah menjadikan sebuah sekolah menjadi sekolah berstandar internasional. Tahapan ke arah sana begitu ketat, dengan standar manajemen dan kualitas Sumber Daya Manusia yang tinggi.

Namun demikian, visi ke depan itu mengarahkan Ust. Zaki untuk memimpin guru-guru dan seluruh stafnya bahu membahu dalam meningkatkan kapasitas dan kualitas yang dimilikinya melalui berbagai pendidikan dan pelatihan yang terus menerus diadakan.

Berbagai program pendidikan dan pelatihan inilah yang juga mengantarkan Ust. Dzaki untuk meraih salah satu mimpi-mimpinya, yaitu mengelilingi berbagai tempat di dunia. “Saya bersyukur, sambil bekerja bisa sekalian berkeliling ke berbagai tempat di dunia mulai dari Malaysia, Singapura, Jepang, Hongkong, Turki, dan berbagai tempat lain. Pada mulanya mimpi keliling ke berbagai tempat di dunia itu saya anggap sekedar khayalan, karena saya pikir sulit untuk bisa tercapai. Tetapi ternyata saya dapat pelajaran sangat berharga bahwa kita tidak boleh meremehkan mimpi-mimpi kita, karena suatu saat mungkin ada jalan bagi kita untuk mencapai mimpi-mimpi tersebut. Karena itu, jangan pernah berhenti bermimpi. Jagalah mimpi itu tetap hidup, bekerja dan berusahalah, niscaya Tuhan akan mendengar mimpi-mimpi kita”, begitu paparnya.

Kisah Ust. Dzaki adalah contoh nyata betapa hampir semua orang harus memulai karir dari bawah, bahkan dari sebuah Madrasah yang belum terkenal sekalipun. Namun demikian, bukan berarti orang tersebut boleh berputus asa tanpa ada harapan untuk menjadi lebih baik. Syarat utama adalah terus mengembangkan dan memperbaiki diri, sehingga secara pribadi layak untuk dinaikkan kelasnya kepada posisi yang lebih tinggi. Memelihara mimpi berarti memelihara harapan, sekaligus mengingatkan diri kita untuk terus bekerja keras mencapai mimpi-mimpi tersebut…

Rita adalah seorang guru yang sebenarnya pintar menulis. Jika ia menulis suatu artikel atau makalah, dengan cepat ia mampu menyelesaikannya dengan baik. Hampir semua orang tahu kemampuan yang dimilikinya, karena tulisannya sering muncul di penerbitan sekolah.

Tahun demi tahun berjalan, semakin lama ternyata tulisan-tulisan Rita sudah mulai jarang muncul. Produktivitasnya semakin menurun dalam menulis, walaupun sebenarnya keterampilan menulis yang dimilikinya tidak pernah hilang. Lalu apa yang sebenarnya terjadi pada Rita?

Usut punya usut, Rita ternyata lupa dengan satu hal penting yang harus dijaga dalam keterampilan tulis menulis, yaitu membaca. Membaca merupakan aktivitas yang tidak bisa terpisahkan dengan tulis menulis. Keterampilan menulis akan jauh lebih berkembang jika diiringi dengan aktivitas membaca yang tinggi.

Rita melupakan satu hal penting dalam pengembangan kreativitas, yaitu apa yang disebut sebagai mengasah keterampilan. Tanyakan kepada ibu-ibu di dapur, berapa kali dalam sebulan mereka harus mengasah pisau agar tetap tajam. Kita menggunakan pisau tersebut setiap hari untuk memotong sayuran, daging, dan juga mengupas buah-buahan. Jika pisau tersebut tidak diasah, maka lama kelamaan pisau tersebut akan tumpul dan sulit dipakai lagi untuk memotong.

Perumpamaan pisau sama dengan keterampilan yang kita miliki. Kita menggunakan keterampilan tersebut setiap hari, jangan lupa untuk terus mengasah keterampilan tersebut. Keterampilan tidak bisa sekedar dikhayalkan ataupun dipikirkan. Tetapi keterampilan adalah sesuatu yang secara terus menerus harus dipraktekkan. Mengasah keterampilan adalah melakukan berbagai cara agar keterampilan tersebut semakin bertambah setiap hari dan tidak hilang.

Seperti anak-anak yang belajar naik sepeda. Saat ia bisa naik sepeda, mungkin pertama kali sering terjatuh atau menabrak sesuatu. Tetapi jika ia sudah lancar dan setiap hari mempraktekkan bermain sepeda, maka keterampilan tersebut akan semakin lancar. Ia bisa bersepada secara kencang, ngebut, kejar-kejaran dengan temannya, dan menghindari berbagai bahaya.

Coba lihatlah ke dalam diri kita keterampilan apa yang menjadi keunggulan dan keunikan kita. Asah keterampilan tersebut terus menerus, dan belajarlah berbagai keterampilan pendukungnya. Dengan demikian, keterampilan utama kita akan semakin terus berkembang.

Mengembangkan diri juga bisa dilakukan dengan selalu berusaha menjadi kreatif dan inovatif. Bapak Irfan, sebut saja begitu, seorang guru Matematika, setiap hari berpikir keras bagaimana membuat alat peraga pendidikan dari bahan-bahan yang ada di sekitarnya.

Minggu ini, ia menggunakan balok-balok kecil untuk bercerita tentang bentuk, minggu depannya ia menggunakan jari untuk menghitung, minggu selanjutnya ia menggunakan buah untuk menghitung pecahan, dan begitu seterusnya ia berusaha menggunakan berbagai alat peraga pendidikan dari bahan-bahan yang ada di sekitarnya.

Kreativitas dan inovasi semacam ini terkadang tidak kita pikirkan. Tetapi faktanya, bukan sekedar proses belajar mengajar yang menjadi lebih menyenangkan, dengan kita selalu berpikir kreatif melatih diri kita untuk tidak berpuas diri dengan apa yang sudah ada, dan terus meningkatkan inovasi dan kreativitas dalam berbagai kehidupan kita sehari-hari.

Di tengah-tengah persaingan yang begitu ketat sekarang ini, kreativitas dan inovasi mutlak diperlukan. Tanpa adanya inovasi dan ide-ide kreatif yang kita timbulkan, lambat laun kita akan tergilas oleh orang-orang yang datang kemudian dengan ide-ide baru yang mungkin saja lebih baik dari apa yang sudah kita lakukan.

Jika dirasa sudah merasa tidak lagi bisa berkembang, saatnya untuk melakukan pengisian ulang (recharge) energi dan pengetahuan kita. Jalur pendidikan dan pelatihan merupakan salah satu cara paling efektif untuk mengembangkan diri, karena biasanya sebuah jenjang pendidikan dan pelatihan sudah dirancang dengan baik agar peserta didik bisa mendapatkan pengetahuan yang dibutuhkan dalam kurun waktu tertentu.

Selain mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang memadai dari sebuah pendidikan dan pelatihan, kita juga akan mendapatkan ijazah ataupun sertifikat formal dari pendidikan dan pelatihan tersebut. Buat saya, walaupun formalitas dalam ijazah dan sertifikat ini bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan kesuksesan kita, tetapi keberadannya memudahkan kita untuk mendapatkan kredibilitas sebagai pengajar, ataupun untuk keperluan formal dalam kenaikan jenjang karir dan pangkat.

Berbagai ijazah dan sertifikat yang kita dapatkan bisa menjadi semacam “jalur cepat” untuk kita bisa mencapai apa yang kita inginkan. Mudah saja, jika kita mempunyai gelar sarjana misalnya, tentu akan lebih mudah dalam bergerak dibandingkan jika kita belum mendapatkan gelar sarjana. Walaupun tentu saja kesuksesan seseorang sama sekali tidak ditentukan apakah ia mempunyai ijazah dan sertifikat formal atau tidak.

Selain melalui jalur pendidikan dan pelatihan, baik formal maupun informal, menambah pengetahuan juga bisa dilakukan secara otodidak dengan membaca sendiri berbagai literatur yang ada, baik dalam bentuk buku maupun artikel-artikel yang tersebar secara luas di internet.

Mungkin kita tidak menyadari, bahwa mesin pencari semacam Google merupakan salah satu sumber ilmu yang sangat luas dan hampir tidak terbatas. Namun demikian, karena banyaknya informasi yang tersedia di Google, butuh kemampuan ekstra dari kita untuk memilih dan memilah mana informasi yang bermanfaat dan mana informasi yang bersifat sampah. Karena jika kita tidak mampu memilih dan memilah dengan baik, banyak informasi yang menjadi mubazir dan tidak berguna. Berikut ini beberapa tips untuk mencari artikel ataupun materi presentasi di Google secara efektif.

A. Mencari Artikel

Jika ingin mencari artikel, orang biasanya langsung mengetikkan sesuatu kata kunci untuk dimasukkan ke dalam search engine.  Search engine kemudian akan memberikan daftar informasi yang ada dalam databasenya secara keseluruhan. Akibatnya, ada ribuan pilihan yang harus dilihat, sementara terkadang waktu yang dimiliki terbatas.

Untuk memudahkan proses pencarian artikel, biasanya sebuah artikel ditulis dalam bentuk Microsoft Word ataupun PDF yang digunakan sebagai standar industri. File extension yang digunakan adalah .doc ataupun .pdf,, misalnya artikel berjudul “manajemen lembaga pendidikan.doc”, berarti artikel tersebut berformat Microsoft Word, atau “manajemen lembaga pendidikan.pdf”, berarti artikel tersebut berformat PDF.

Karena itu, jika ingin mencari artikel, jangan lupa untuk ditambahkan kata-kata “filetype” di belakang artikel tersebut.  Jika ingin mencari artikel tentang manajemen lembaga pendidikan misalnya, yang dimasukkan di search engine tidak sekedar kata-kata “manajemen lembaga pendidikan”, tetapi harus ditambahkan kata “filetype” tersebut. Sehingga yang dimasukkan adalah: “manajemen lembaga pendidikan filetype:pdf” jika kita menginginkan artikel-artikel dalam bentuk PDF atau “manajemen lembaga pendidikan filetype:doc” jika kita menginginkan artikel-artikel dalam bentuk Microsoft Word.

Dengan demikian, secara langsung akan tersaring bahwa informasi yang disajikan adalah hanya yang berformat Microsoft Word ataupun PDF. Dan seperti dikatakan di atas, dua format inilah yang menjadi standar penulisan artikel sehingga yang dikeluarkan oleh search engine terbatas hanya artikel, dan bukan informasi umum yang sangat luas.

B. Mencari Materi Presentasi

Sama halnya dengan mencari artikel, mencari materi presentasi juga berdasarkan filetype.  Tipe materi presentasi yang menjadi standar industri adalah Microsoft Power Point, dengan file extension ppt. Karena itu, jangan lupa untuk menambahkan kata “filetype:ppt” pada semua kata-kata yang akan dicari.

Pada contoh di atas, adalah mencari materi presentasi yang bertema “manajemen lembaga pendidikan”. Maka yang perlu dimasukkan ke search engine adalah “manajemen lembaga pendidikan filetype:ppt”.  Dengan demikian, yang akan keluar adalah semua informasi yang mengandung kata-kata manajemen, atau lembaga pendidikan dan berformat Microsoft Power Point. Format ini akan memudahkan kita menyortir, dan tinggal memilih materi presentasi mana yang sesuai dan materi mana yang tidak.

Hal-hal di atas mungkin selama ini belum kita mengerti, tetapi dengan satu pengetahuan dan pemahaman yang lebih efektif bagaimana menggunakan Google, hampir membuka semua pintu-pintu pengetahuan yang kita inginkan. Tinggal masalahnya kembali kepada kita semua, mau terus belajar dan berkembang atau tidak.

Saya ingat, ada beberapa orang kawan saya semasa sekolah tingkat SMA dulu, kerjaannya kebanyakan tidur di kelas. Karena kita berasrama, di asrama saat malam hari juga tidak terlihat belajar. Saat teman-temannya belajar dengan suara keras, ia asyik bermain atau makan dengan teman-teman yang lain. Tetapi anehnya, saat ujian dilakukan, mereka mendapatkan nilai yang baik-baik. Pertanyaannya, kapan mereka belajar?

Belakangan, setelah memahami konsep kemampuan menyerap pengetahuan yang berbeda-beda dalam bentuk Visual, Auditory, dan Kinestetik (VAK), baru saya agak sedikit mengerti mengapa mereka bisa enak-enakan tidur di kelas tetapi mendapatkan nilai baik. Kelihatannya mereka adalah tipe pembelajar auditory, yaitu para pembelajar yang bisa menyerap informasi dan mata pelajaran, justru lebih banyak dari mendengar dibandingkan dengan membaca secara langsung. Jadi, mereka belajar saat orang lain membaca pelajarannya keras-keras. Di situlah mereka bisa lebih banyak menyerap informasi. Selanjutnya, dengan kecerdasan yang mereka miliki, informasi itu dengan mudah dikelola dan disimpan sehingga pas ujian tinggal membuka informasi itu dari simpanan memorinya. Bukannya tidak belajar, tetapi begitulah cara mereka belajar.

Ada seorang anak di sekolah, sebut saja Budi. Ia sebenarnya anak yang pintar, tetapi karena sering tidak memperhatikan saat guru mengajar di kelas, Budi diberi label sebagai “anak nakal”. Ia sering membuat kegaduhan saat belajar, mengganggu teman yang lain, atau bermain-main sendiri saat guru mengajar. Ibu Andi, salah seorang guru di sekolah tersebut, mencoba memecahkan masalah yang dihadapi Budi. Dalam beberapa kali pertemuan, ia melakukan observasi kelas bagaimana proses belajar mengajar yang dilakukan di kelas. Setelah beberapa waktu mengumpulkan informasi, ia mengambil satu kesimpulan penting, bahwa Budi tidak suka dengan cara mengajar guru-gurunya, terutama jika hanya disampaikan dalam bentuk ceramah di depan kelas. Karena itu, saat guru mengajar, ia lebih asyik untuk bermain dengan anak-anak yang lain.

Ibu Andi kemudian mencoba cara yang berbeda dalam mengajar. Saat ia masuk kelas, ia mengajak siswa untuk keluar kelas dan melakukan pembelajaran di luar kelas. Ia bagi kelasnya menjadi beberapa kelompok, kemudian melakukan berbagai pekerjaan kelompok sesuai dengan tugas-tugas yang telah diberikan. Budi ternyata sangat antusias dengan model pembelajaran semacam ini. Ia tidak lagi melakukan perbuatan iseng atau nakal terhadap teman-temannya, bahkan ia terus menyemangati anggota kelompoknya untuk mengerjakan tugas yang diberikan.

Lain lagi permasalahan yang dialami Ibu Parti. Problemnya sama, beberapa anak didiknya tidak mau mendengarkan saat ia mengajar di depan kelas. Ia lalu mencoba mengubah metode belajar mengajarnya. Setiap hari, ia menyiapkan gambar-gambar, poster, peta, bahkan beberapa film yang sesuai dengan tema yang diajarkan. Ternyata cara tersebut berhasil. Para siswa mulai antusias dengan pelajaran yang diberikan, dan merekapun lambat laun menyenangi proses belajar mengajar tersebut. Apa yang dialami Ibu Andi dan Ibu Parti merupakan masalah umum yang sering dialami oleh guru-guru di sekolah. Sebagai anak-anak yang masih dalam umur lebih banyak bermain, mengatur mereka agar mengikuti proses belajar mengajar di kelas dengan baik bukanlah perkara yang mudah. Salah satu hal yang sering dilupakan oleh para guru adalah bahwa setiap anak dengan latar belakang berbeda mempunyai keunikan tersendiri dalam belajar. Mereka mempunyai cara masing-masing dalam memperoleh dan mengolah informasi. Gaya inilah yang disebut dengan gaya belajar (learning style).

Banyak ahli yang menggunakan istilah berbeda-beda dalam memahami gaya belajar ini. Tetapi secara umum, menurut Bobby DePotter terdapat dua benang merah yang disepakati tentang gaya belajar ini. Pertama adalah cara seseorang menyerap informasi dengan mudah, yang disebut sebagai modalitas, dan kedua adalah cara orang mengolah dan mengatur informasi tersebut. Modalitas belajar adalah cara kita menyerap informasi melalui indera yang kita miliki. Masing-masing orang mempunyai kecenderungan berbeda-beda dalam menyerap informasi. Terdapat tiga modalitas belajar ini, yaitu apa yang sering disingkat dengan VAK: Visual, Auditory, Kinestethic.

Visual

Modalitas ini menyerap citra terkait dengan visual, warna, gambar, peta, diagram. Model pembelajar visual menyerap informasi dan belajar dari apa yang dilihat oleh mata. Beberapa ciri dari pembelajar visual di antaranya adalah:

  1. Mengingat apa yang dilihat, daripada yang didengar.
  2. Suka mencoret-coret sesuatu, yang terkadang tanpa ada artinya saat di dalam kelas 
  3. Pembaca cepat dan tekun 
  4. Lebih suka membaca daripada dibacakan 
  5. Rapi dan teratur 
  6. Mementingkan penampilan, dalam hal pakaian ataupun penampilan keseluruhan 
  7. Teliti terhadap detail 
  8. Pengeja yang baik 
  9. Lebih memahami gambar dan bagan daripada instruksi tertulis 

Auditory

Model pembelajar auditory adalah model di mana seseorang lebih cepat menyerap informasi melalui apa yang ia dengarkan. Penjelasan tertulis akan lebih mudah ditangkap oleh para pembelajar auditory ini. Ciri-ciri orang-orang auditorial, di antaranya adalah:

  1. Lebih cepat menyerap dengan mendengarkan 
  2. Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca 
  3. Senang membaca dengan keras dan mendengarkan 
  4. Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, birama, dan warna suara. 
  5. Bagus dalam berbicara dan bercerita 
  6. Berbicara dengan irama yang terpola 
  7. Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada yang dilihat 
  8. Suka berbicara, suka berdiskusi, dan menjelaskan sesuatu panjang lebar 
  9. Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya 
  10. Suka musik dan bernyanyi 
  11. Tidak bisa diam dalam waktu lama 
  12. Suka mengerjakan tugas kelompok

Kinestetik

Model pembelajar kinestetik adalah pembelajar yang menyerap informasi melalui berbagai gerakan fisik. Ciri-ciri pembelajar kinestetik, di antaranya adalah:

  1. Selalu berorientasi fisik dan banyak bergerak 
  2. Berbicara dengan perlahan 
  3. Menanggapi perhatian fisik 
  4. Suka menggunakan berbagai peralatan dan media 
  5. Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka 
  6. Berdiri dekat ketika berbicara dengan orang 
  7. Mempunyai perkembangan awal otot-otot yang besar 
  8. Belajar melalui praktek
  9. Menghafal dengan cara berjalan dan melihat 
  10. Menggunakan jari sebagai penunjuk ketika membaca 
  11. Banyak menggunakan isyarat tubuh 
  12. Tidak dapat duduk diam untuk waktu lama 
  13. Menggunakan kata-kata yang menandung akso 
  14. Menyukai buku-buku yang berorientasi pada cerita 
  15. Kemungkinan tulisannya jelek 
  16. Ingin melakukan segala sesuatu 
  17. Menyukai permainan dan olah raga.

Selain berhubungan dengan cara menyerap informasi, gaya belajar juga berhubungan dengan bagaimana seseorang memproses dan mengolah informasi tersebut. Howard Gardner menyebutkan, bahwa cara seseorang memproses dan mengolah informasi ini sangat erat berhubungan dengan kecenderungan kecerdasan yang dimilikinya. Dalam pandangan Gardner, kecerdasan ini tidak hanya tunggal, tetapi masing-masing orang memiliki kecerdasan berbeda-beda, yang disebut sebagai kecerdasan majemuk (multiple intelligence).

Kecerdasan majemuk bisa dirinci menjadi delapan kecerdasan, yaitu:

  1. Kecerdasan Linguistik, berkaitan dengan kemampuan membaca, menulis, berdiskusi, berargumentasi dan berdebat. 
  2. Kecerdasan Matematis-Logis, berkaitan dengan kemampuan berhitung, menalar dan berpikir logis, memecahkan masalah.
  3. Kecerdasan Visual-Spasial, berkaitan dengan kemampuan menggambar, memotret, membuat patung, mendesain. 
  4. Kecerdasan Musikal, berkaitan dengan kemampuan menciptakan lagu, mendengar nada dari sumber bunyi atau alat-alat musik. 
  5. Kecerdasan kinestetik, berkaitan dengan kemampuan gerak motorik dan keseimbangan. 
  6. Kecerdasan Interpersonal, berkaitan dengan kemampuan bergaul dengan orang lain, memimpin, kepekaan soasial, kerja sama dan empati. 
  7. Kecerdasan Intrapersonal, berkaitan dengan pemahaman terhadap diri sendiri, motivasi diri, tujuan hidup dan pengembangan diri. 
  8. Kecerdasan Naturalis, berkaitan dengan kemampuan meneliti perkembangan alam, melakukan identifikasi dan observasi terhadap lingkungan sekitar.

Dari delapan kecerdasan di atas, setiap orang mempunyai kecenderungan untuk memiliki salah satu kecerdasan yang menonjol dibandingkan dengan kecerdasan lainnya. Kecerdasan yang menonjol inilah yang perlu dieskplorasi karena merupakan kecenderungan seseorang yang paling besar yang menjadi gaya belajarnya.

Seseorang dengan kecenderungan pembelajar kinestetis misalnya, sangat mungkin memiliki kecerdasan kinestetis juga, di mana kecenderungan belajarnya lebih banyak menggunakan pembelajaran fisik, dalam arti lebih senang bergerak daripada diam. Hal ini yang mungkin terjadi pada Budi di awal cerita ini. Karena lebih nyaman dengan model pembelajaran kinestetik, ia lebih suka untuk melakukan proses belajar di luar keras, melakukan praktik dan kerja kelompok, serta simulasi dan berbagai permainan yang menyenangkan.

Mengetahui Cara Belajar Siswa

Dalam prakteknya tidak mudah mengetahui gaya belajar siswa. Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mengetahui gaya belajar ini. Cara Pertama, adalah dengan menggunakan observasi secara mendetail terhadap setiap siswa melalui penggunaan berbagai metode belajar mengajar di kelas. Gunakan metode ceramah secara umum, catatlah siswa-siswa yang mendengarkan dengan tekun hingga akhir. Perhatikan siswa-siswa yang “kuat” bertahan berapa lama dalam mendengar. Klasifikasikan mereka sementara dalam golongan orang-orang yang bukan tipe pembelajar yang cenderung mendengarkan.

Dari sini kita bisa mengklasifikasikan secara sederhana tipe-tipe siswa dengan model-model pembelajar auditori yang lebih menonjol. Metode lain bisa digunakan, misalnya dengan memutar film, menunjukkan gambar atau poster, dan juga menunjukkan peta ataupun diagram. Dengan proses belajar mengajar seperti ini, kita bisa melihat para siswa yang mempunyai kecenderungan belajar secara visual dan juga mempunyai kecerdasan visual-spasial akan lebih tertarik dan antusias.

Setelah itu, cobalah dengan metode pembelajaran menggunakan praktek atau simulasi. Para pembelajar kinestetik tentu saja akan sangat antusias dengan model belajar mengajar semacam ini. Begitu seterusnya kita melihat bagaimana reaksi siswa terhadap setiap model pembelajaran sehingga lambat laun kita akan lebih mudah memahami dan mengetahui kecenderungan gaya belajar yang mereka.

Cara Kedua, adalah dengan memberikan tugas kepada siswa untuk melakukan pekerjaan yang membutuhkan proses penyatuan bagian-bagian yang terpisah, misalnya menyatukan model rumah yang bagian-bagiannya terpisahkan. Ada tiga pilihan cara yang bisa dilakukan dalam menyatukan model rumah ini, pertama adalah melakukan praktek langsung dengan mencoba menyatukan bagian-bagian rumah ini setelah melihat potongan-potongan yang ada; kedua adalah dengan melihat gambar desain rumah secara keseluruhan, baru mulai menyatukan; dan ketiga adalah petunjuk tertulis langkah-langkah yang diperlukan untuk membangun rumah tersebut dari awal hingga akhir.

Pembelajar visual akan cenderung memulai dengan melihat gambar rumah secara utuh. Ia lebih cepat menyerap melalui gambar-gambar tersebut sebelum menyatukan bagian-bagian rumah secara keseluruhan. Pembelajar auditory cenderung membaca petunjuk tertulis mengenai langkah-langkah yang diperlukan untuk membangun rumah, dan tidak terlalu mempedulikan gambar yang ada. Sedangkan pembelajar kinestetik akan langsung mempraktekkan dengan mencoba-coba menyatukan satu bagian dengan bagian yang lain tanpa terlebih dahulu melihat gambar ataupun membaca petunjuk tulisan. Dari pengamatan terhadap cara kerja siswa dalam menyelesaikan tugas ini, kita akan lebih memahami gaya mengajar siswa secara lebih mendetail.

Cara Ketiga, merupakan cara yang lebih komprehensif yaitu dengan melakukan survey atau tes gaya belajar. Namun demikian, alat survey ataupun tes ini biasanya mengikat pada satu konsultan atau psikolog tertentu sehingga jika kita ingin melakukan tes tersebut harus membayar dengan sejumlah biaya tertentu, yang terkadang dirasa cukup mahal. Namun demikian, karena menggunakan metodologi yang sudah cukup teruji, biasanya survey atau tes psikologi semacam ini mempunyai akurasi yang tinggi sehingga memudahkan bagi guru untuk segera mengetahui gaya belajar siswa. Nah, dari ketiga cara mengetahui gaya belajar siswa di atas tergantung kita untuk menggunakan cara yang mana. Cara pertama dan kedua membutuhkan usaha yang keras dari kita dalam memetakan dan mengklasifikasikan gaya mengajar siswa yang terdapat dalam satu kelas. Namun demikian, kedua cara ini tidak membutuhkan biaya yang mahal. Untuk lebih akurat, memang cara ketiga bisa diambil, namun konsekuensinya tentu saja perlu mengeluarkan biaya untuk survey ataupun tes gaya belajar.

Mengajar dengan Gaya Belajar Siswa yang Berbeda

Setelah mengetahui gaya belajar siswa dan kecenderungan kecerdasan yang paling menonjol dimilikinya, saatnya sebagai guru kita menyesuaikan dengan gaya belajar mereka. Bagaimana kita menyesuaikan diri dengan gaya belajar mereka masing-masing?

Untuk pembelajar visual, di mana lebih banyak menyerap informasi melalui mata, hal-hal yang bisa kita lakukan untuk memaksimalkan kemampuan belajar mereka adalah:

  1. Biarkan mereka duduk di bangku paling depan, sehingga mereka bisa langsung melihat apa yang dituliskan atau digambarkan guru di papan tulis. 
  2. Selain tulisan, buatlah lebih banyak bagan-bagan, diagram, flow-chart menjelaskan sesuatu. 
  3. Putarkan film. 
  4. Minta mereka untuk menuliskan poin-poin penting yang harus dihapalkan. 
  5. Gunakan berbagai ilustrasi dan gambar. 
  6. Tulis ulang apa yang ada di papan tulis. 
  7. Gunakan warna-warni yang berbeda pada tulisan.

Untuk pembelajar auditory, di mana mereka lebih banyak menyerap informasi melalui pendengaran, hal-hal yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan kemampuan belajar mereka adalah:

  1. Gunakan audio dalam pembelajaran (musik, radio, dll) 
  2. Saat belajar, biarkan mereka membaca dengan nyaring dan suara keras. 
  3. Seringlah memberi pertanyaan kepada mereka. 
  4. Membuat diskusi kelas. 
  5. Menggunakan rekaman. Biarkan mereka menjelaskan dengan kata-kata. 
  6. Biarkan mereka menuliskan apa yang mereka pahami tentang satu mata pelajaran. 
  7. Belajar berkelompok. 

Sedangkan untuk pembelajar kinestetic, di mana mereka lebih banyak menyerap informasi melalui gerakan fisik, hal-hal yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan kemampuan belajar mereka adalah:

  1. Perbanyak praktek lapangan (field trip). 
  2. Melakukan demonstrasi atau pertunjukan langsung terhadap suatu proses. 
  3. Membuat model atau contoh-contoh. 
  4. Belajar tidak harus duduk secara formal, bisa dilakukan dengan duduk dalam posisi yang nyaman, walaupun tidak biasa dilakukan oleh murid-murid yang lain. 
  5. Perbanyak praktek di laboratorium. 
  6. Boleh menghapal sesuatu sambil bergerak, berjalan atau mondar-mandir misalnya. 
  7. Perbanyak simulasi dan role playing. 
  8. Biarkan murid berdiri saat menjelaskan sesuatu.

Dalam prakteknya, satu kelas biasanya terdiri dari tiga kelompok pembelajar semacam ini. Karena itulah, tidak bisa seorang guru hanya mempraktekkan satu metode belajar mengajar untuk diterapkan di seluruh kelas. Bayangkan jika guru mengajar hanya dengan metode ceramah mulai dari awal hingga akhir. Jika dalam satu kelas kecenderungannya lebih banyak pembelajar visual atau kinestetis, maka yang terjadi adalah suasana yang tidak menyenangkan. Orang-orang visual dan kinestetis akan mulai merasa bosan dengan apa yang diomongkan, hingga yang terjadi mereka akan mulai mencari perhatian dengan berbagai hal yang mengganggu. Ada yang tidak mendengarkan, tidur di kelas, ataupun berlarian ke sana kemari karena tidak tahan untuk terus menerus mendengarkan apa yang dijelaskan oleh guru di dalam kelas.

Nah, dalam situasi semacam ini, guru-guru kreatif dan mempunyai inovasi yang tinggi akan segera mengganti proses belajar mengajar dengan mempertimbangkan keragaman gaya belajar siswa. Tidak lagi kemudian menggunakan metode ceramah, tetapi menggunakan metode yang lain yang memungkinkan, misalnya diskusi kelompok ataupun mengajak mereka dalam suatu permainan agar tidak membosankan.

Namun demikian, yang masih sering terjadi adalah, karena guru merasa tidak diperhatikan, mereka kemudian menggunakan kekuasaan mereka sebagai guru dengan melakukan bentakan yang keras, biasanya disertai ancaman kalau tidak mendengarkan maka mereka akan mendapatkan hukuman. Pola belajar mengajar semacam ini tidak saja membuat proses belajar mengajar menjadi sesuatu yang mengerikan dan membuat trauma bagi anak didik, tetapi juga mengaduk-aduk dan menyita emosi guru secara terus menerus. Akibatnya, bisa ditebak, tekanan kerja yang semakin berat membuat proses belajar mengajar bagi guru menjadi beban yang tidak lagi menyenangkan.

Situasi semacam ini melahirkan “kalah-kalah”, di mana guru kalah karena walaupun sudah bekerja keras tetapi tidak bisa menikmati pekerjaannya, sementara bagi siswa juga kalah karena proses belajar mengajar tidak lagi menjadi proses yang menyenangkan, tetapi membuat trauma dan kesedihan untuk belajar. Karena itulah, kreativitas dan kemampuan guru untuk memahami gaya belajar siswa sangat penting agar suasana di dalam kelas bisa dibangun dengan lebih kondusif dan menyenangkan untuk belajar. Dengan demikian, sekolah akan menjadi tempat yang menyenangkan, bagi guru, siswa, dan semua pihak yang terlibat di dalamnya.

 Sukses adalah apa yang kita pikirkan dan kita ingin raih. Setiap orang memiliki arti sukses yang berbeda-beda. Ada yang menginginkan kesuksesan dalam bidang karir, materi, profesi, ada juga yang menginginkan kesuksesan dalam bidang sosial keagamaan. Menjadi guru merupakan salah satu profesi unik, di mana kesuksesan guru tidak hanya terkait pada dirinya sendiri, tetapi juga terkait dengan anak didiknya. Seorang guru dianggap berhasil jika mampu menghasilkan anak didik dengan nilai-nilai hasil pelajaran yang baik, akhlak yang baik, sikap mental yang baik, dan juga kemampuan dan keterampilan hidup sesuai dengan usianya. Jadi, sangat menarik bahwa kesuksesan seorang guru terkait tidak hanya saat anak didik belajar di sekolah, tetapi juga saat anak didik tersebut keluar dan lulus dari sekolah.

Sukses itu bukan dimulai dari luar sana, sukses dimulai dari diri sendiri. Sukses terkait dengan cita-cita dan keinginan apa yang ingin diraih. Karena itulah hal pertama yang harus kita lakukan adalah membuka pikiran dan wawasan seluas-luasnya bahwa kita bisa mencapai apa saja yang kita inginkan. Seperti anak kecil yang membayangkan sesuatu tanpa ada batasan-batasan tertentu, begitulah juga pikiran kita. Kadang kita terbelenggu dengan satu pikiran bahwa seorang guru ya tidak boleh bercita-cita tinggi. Seolah-olah menjadi guru tidak bisa berkembang menjadi besar, seolah-olah sudah menjadi takdir yang harus diterima begitu saja tanpa ada usaha. Paradigma itu harus diubah: sukses bisa diperoleh siapa saja, apapun profesinya. Kesuksesan itu tidak terkait dengan profesi tertentu.

Kesuksesan selalu bermula dari pikiran kita apakah kita menginginkan untuk mencapai sesuatu atau tidak. Jika pikiran kita mengatakan bahwa kita bisa mencapai dan meraih apa yang kita inginkan, akan tumbuh kekuatan besar dalam diri kita untuk bisa mencapainya. Sebaliknya, jika dalam pikiran kita sudah tergambar pesimisme bahwa kita tidak bisa mencapai kesuksesan, maka sudah pasti kita tidak bisa mencapai apa yang kita inginkan. Karena masing-masing orang memiliki latar belakang, kebutuhan dan keinginan berbeda, kesuksesan itu bisa dari berbagai sisi. Ada orang yang secara materi menginginkan dalam beberapa tahun ke depan bisa mempunyai rumah dan kendaraan, maka saat itu tercapai, orang tersebut bisa dibilang sudah sukses mencapai satu keinginan yang dicita-citakan. Di sisi lain, ada juga yang menginginkan dalam kurun beberapa tahun ke depan bisa mendirikan lembaga pendidikan atau sekolah. Jika hal itu tercapai, maka orang tersebut bisa dibilang telah mencapai kesuksesan. karena satu cita-citanya telah tercapai.

Namun demikian, ada juga orang yang bercita-cita bahwa kehidupan dunia dan kerja-kerja yang dilakukannya adalah untuk kepentingan ibadah. Karena itulah, ia mungkin tidak mengharapkan apa-apa kecuali keikhlasannya tidak berkurang dan semakin khusyu’ beribadah. Sebuah sikap tulus yang membuatnya menjadi lebih tenang dan damai dalam menjalankan kehidupan.

Karena itu, jika kita menginginkan kesuksesan, langkah pertama adalah bermimpi atau bercita-cita apa yang kita inginkan dalam kurun beberapa tahun ke depan. Gambarkan cita-cita itu secara detail dan rinci sehingga menjadi target yang harus kita raih. Tidak hanya dalam satu bidang, buatlah impian itu dengan rincian yang jelas. Dalam bidang akademik, kita akan mencapai apa. Di bidang keuangan dan profesi, kita mentargetkan untuk bisa mendapatkan penghasilan berapa dan dalam posisi apa. Sementara dalam bidang ibadah dan sosial, kita bisa naik haji misalnya dalam beberapa tahun ke depan. Semuanya butuh rincian yang detail.

Setelah itu, persiapkan diri dengan baik dengan berbagai keterampilan dan keilmuan yang dibutuhkan. Sukses tidak bisa diraih begitu saja tanpa keterampilan dan pengetahuan yang memadai. Ikutlah berbagai program pengembangan diri melalui pendidikan dan pelatihan sehingga kita mempunyai “senjata” yang cukup untuk mencapai cita-cita tersebut. Tanpa keterampilan dan pengetahuan yang memadai, mungkin kita hanya sedang bermimpi.

Akan selalu ada jalan jika kita mau. Kesuksesan membutuhkan kemauan yang kuat dan kerja keras dalam mencapainya. Mungkin sekarang kita dalam kondisi keuangan yang tidak memadai untuk bisa mengikuti pelatihan atau melanjutkan sekolah misalnya, tetapi dengan berbagai usaha keras, jalan itu pasti akan terbuka. Bisa lewat beasiswa, bantuan pemerintah, ataupun dengan berbagai cara lain. Kemauan dan kerja kerja keras secara konsisten sangat penting karena dalam perjalanannya, kita pasti akan menghadapi berbagai halangan dan rintangan yang menghadang. Tanpa adanya kemauan yang kuat, maka di tengah jalan kita akan terputus dan menyerah dengan berbagai cobaan tersebut. Konsistensi dan disiplin dalam bekerja mencapai cita-cita mutlak diperlukan. Biarkan anjing dan semua halangan itu menggonggong, tetapi kafilah tetap berlalu.

Jangan biarkan diri kita lemah dalam menghadapi itu semua. Jadikan rintangan dan halangan itu penambah gairah dan semangat dalam mencapai apa yang kita cita-citakan. Jangan pernah mengeluh jika kita mendapatkan cobaan. Jika kita merasa orang lain tidak menghargai apa yang kita lakukan, atau bahkan mencemooh, tugas kita adalah mengubah berbagai hal negatif tersebut menjadi energi positif yang menambah daya dobrak dan semangat hidup kita. Jadikan itu semua sebagai tekad, sambil bergumam dalam hati: “nantikan saya kalau udah sukses”.

Hindarkan berbagai belenggu negatif yang mungkin menghinggapi kita. Hindarkan sikap menyalahkan keadaan ataupun menyalahkan orang lain jika terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Selalu melakukan intropeksi bahwa masih banyak hal yang harus kita lakukan karena kesalahan yang telah kita buat.

Jika ada beban kerja yang berat, bersyukurlah karena hal itu berarti bahwa kita masih dipercaya oleh banyak orang untuk melakukan berbagai pekerjaan mulia. Semakin bertambah beban kerja kita, artinya semakin terbuka kesempatan bagi kita untuk belajar dari berbagai hal yang kita buat. Jangan juga takut berbuat salah, karena kesalahan membuat kita belajar bagaimana menyelesaikan pekerjaan itu dengan lebih baik di masa mendatang. Kesalahan membuat kita berpikir agar tidak mengulanginya lagi di kemudian hari. Jangan sampai kita terperosok ke dalam lubang yang sama dua kali, karena kita tidak mau belajar dari kesalahan yang kita buat. Mungkin saja kesalahan yang kita buat itu membuat kita gagal atau belum berhasil mencapai apa yang kita cita-citakan. Tetapi yakinlah, bahwa kegagalan hanyalah keberhasilan yang tertunda, jika kita mau belajar dari kegagalan tersebut. Tetapi jika kita gagal kemudian terpuruk, maka akan semakin jatuhlah kita.

Karena itu, kita mesti kuat menghadapi berbagai kegagalan dalam hidup. Di tengah persaingan yang ketat seperti ini, sebagai guru kita juga harus terus menerus mengembangkan inovasi dan krativitas dalam berbagai kerja profesional kita. Mengapa harus kreatif? Karena kreativitaslah yang bisa membedakan diri kita dengan orang lain. Kreativitas dan inovasi yang selalu kita kembangkan akan menjadi nilai tambah dibandingkan guru-guru lain. Dengan demikian, walaupun persaingan ke depan semakin ketat, kita bisa mempunyai nilai tambah dalam diri kita yang tidak dimiliki oleh orang lain.

Nilai tambah ini penting karena akan menjadi pembeda yang merupakan keunggulan bersaing kita. Dengan keunggulan bersaing yang kita miliki, kita bisa terus hidup dan berkembang dalam berbagai situasi apapun. Cobalah mulai dengan menggali dari diri sendiri, kemampuan apa yang bisa menjadi nilai tambah kita dibandingkan dengan orang lain. Kita mungkin mampu misalnya membuat media pembelajaran yang efektif dan menyenangkan bagi siswa. Gali lebih dalam potensi tersebut, siapa tahu bisa dikembangkan secara nasional di seluruh Indonesia. Atau kita mempunyai metode belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan, hasil dari praktek mengajar dan pengamatan bertahun-tahun terhadap proses belajar mengajar yang sudah dilakukan. Matangkan metode tersebut, lakukan berbagai eksperimen, hingga menjadi metode yang bisa dipertanggungjawabkan dan bisa diterapkan secara massal.

Inovasi dan kreativitas artinya selalu berpikir apa yang bisa kita perbaharui dan perbaiki dari proses pekerjaan yang kita lakukan. Dengan selalu berpikir apa yang bisa diperbaiki, kita tidak pernah terjebak dalam rutinitas pekerjaan yang membosankan. Karena bagaimanapun, saat kita bekerja, menjalankan profesi sebagai guru, yang perlu kita lakukan adalah mencintai sepenuhnya pekerjaan kita. Dengan cinta dan ketulusan, kita akan sepenuhnya bekerja sepenuh hati. Tidak ada lagi keluhan dan umpatan yang keluar dari mulut kita karena berbagai kesulitan dan kekurangan yang kita hadapi.

Setiap hari, saat masuk kelas, kita selalu berpikir bagaimana membuat proses belajar mengajar hari ini lebih baik, lebih efektif, dan lebih menyenangkan dari hari-hari kemarin. Dengan demikian, hidup akan selalu kita hadapi dengan penuh optimisme dan kegembiraan. Tidak ada lagi kebosanan dan kesedihan yang mengiringi hidup kita. Pada akhirnya, apa yang kita cita-citakan, dan kerja keras yang kita lakukan adalah tugas kita sebagai manusia. Kita senantiasa berdoa agar kesuksesan dan kebahagiaan itu selalu mengiringi kita, karena selain usaha dan kerja keras kita, Tuhan Maha Penentu yang terbaik untuk kita.

Salam semangat selalu, jangan pernah menyerah. Gantungkan cita-cita, raih dengan kesungguhan dan kerja keras….

Sabtu, 19 Desember 2009 | 03:17 WIB Jakarta, Kompas – Beasiswa untuk 20.000 lulusan SMA yang berasal dari keluarga miskin disalurkan mulai Januari 2010. Beasiswa ini ditujukan untuk lulusan SMA yang ingin melanjutkan kuliah, tetapi kesulitan biaya. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Fasli Jalal di Jakarta, Jumat (18/12), menjelaskan, untuk menyalurkan beasiswa ini, pemerintah menjalin kerja sama dengan 105 perguruan tinggi negeri, yakni 83 PTN di bawah naungan Depdiknas dan 22 PTN di bawah naungan Departemen Agama. Fasli menjelaskan, program yang dinamakan beasiswa Bidik Misi itu terbuka bagi lulusan SMA/SMK/MA/ serta Paket C tahun 2010. Namun, beasiswa sebesar Rp 5 juta per semester tersebut tidak diberikan langsung kepada siswa bersangkutan. Beasiswa diberikan lewat PTN dan PTN bersangkutan yang akan menyeleksi lulusan SMA yang berprestasi dan layak mendapat beasiswa. Setiap PTN akan diberikan beasiswa berdasarkan daya tampung mahasiswa baru dan jumlah mahasiswa saat ini. ”Beasiswa ini untuk meningkatkan akses masyarakat miskin ke perguruan tinggi,” kata Fasli. Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengatakan, beasiswa bagi calon mahasiswa miskin tersebut merupakan salah satu program 100 hari kerja Depdiknas. Adapun persyaratan untuk mendapatkan beasiswa tersebut adalah siswa SMA/SMK/MA/Paket C lulusan tahun 2010, berasal dari keluarga tidak mampu secara ekonomi, dan berprestasi. Setiap calon mahasiswa dapat memilih maksimal dua program studi, baik dalam satu perguruan tinggi maupun dua perguruan tinggi. Beasiswa diberikan sejak mahasiswa dinyatakan diterima dan memulai kegiatan akademik di perguruan tinggi sampai menyelesaikan semester 8 (untuk program D-4 dan S-1) serta semester 6 (untuk program D-3) dengan ketentuan penerima beasiswa berstatus mahasiswa aktif. (ELN)

Kompas, 19 Desember 2009

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/12/19/03175010/beasiswa.lulusan.sma.disalurkan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.